Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 31 Oktober 2010

Merapi, Mbah Maridjan, dan Wawan


Mbah Maridjan sehari sebelum wafat, 25 Oktober 2010 (Antara/ Regina Safri)


VIVAnews - Jarum jam menunjuk pukul 04.00 WIB. Rabu itu, 27 Oktober 2010, hari masih gelap, tapi rombongan tim SAR telah bersiap. Mereka adalah tim evakuasi gelombang kedua yang hendak menyisir korban keganasan wedhus gembel, debu panas Gunung Merapi. Mereka bergegas berangkat dari posko yang letaknya 1 km dari dukuh yang akhir-akhir ini jadi begitu tersohor, Kinahrejo.

Berdua-dua mereka berboncengan motor menuju ke atas. Ada pula yang berjalan kaki. Semua dilakukan dengan gerak cepat, menuju titik-titik yang telah ditentukan saat briefing. Di antara rombongan beranggotakan sekitar 24 orang itu, Hidayat Wahid, kamerawan tvOne--yang lebih dikenal dengan nama udara Don Wahid--berada di barisan terdepan.

Dan kekhawatiran mereka segera terbukti.

Mereka menemukan jenazah pertama tergolek di pinggiran jalan. Tim langsung memasukkannya ke dalam kantung mayat, dan kembali melanjutkan pencarian.

Cahaya pagi mulai nampak, memperjelas pandangan mengerikan di sekeliling perjalanan. Di kanan-kiri semua hancur. Pohon dan tanaman tumbang, hangus, meranggas, berselimut debu vulkanik yang masih terhirup menembus masker, walaupun sudah dirangkap dua. Bagi Don Wahid, suasana kehancuran ini seperti mimpi. Sepi, mencekam.

Kinahrejo sudah di hadapan. Rumah-rumah terlihat porak-poranda. Cuma Masjid Al Amien yang masih terlihat bentuk aslinya. Bulu kuduk Don merinding ketika ia memasuki rumah Mbah Maridjan, sang juru kunci Gunung Merapi yang dulu sering ia sambangi ketika masih menjadi mahasiswa pecinta alam.

Kursi-kursi kayu panjang tempat si Mbah sering duduk-duduk di depan, sudah lenyap. Rumah itu kini menjadi puing-puing. Beberapa bagiannya bahkan tertutup debu putih hingga setebal 30 cm.

Tim langsung merangsek ke bagian belakang rumah Mbah Maridjan yang berbentuk huruf ‘L’. Perlahan mereka menggali tumpukan debu vulkanik. Tiba-tiba, pandangan mereka tertumbuk pada sesosok jenazah yang tertindih puing kayu. Posisinya sedang bersujud.

“Si Mbah, si Mbah...,” beberapa anggota Tim SAR berseru, sembari buru-buru menyingkirkan puing kayu.

Don terhenyak. Ia semula tak percaya bahwa tubuh tak bernyawa itu adalah Mbah Mardijan. Apalagi, sebelumnya beredar kabar bahwa Mbah Maridjan telah ditemukan selamat, meski dalam kondisi lemah. Tapi, beberapa anggota Tim SAR yang mengenal baik Mbah Maridjan meyakinkannya bahwa itu memang jenazah sang penjaga Merapi.

Pakaian koyak yang melekat di tubuh itu memang batik dan sarung yang biasa dikenakan si Mbah. Salawat pun bergema. Air mata Don dan anggota tim lain langsung mengembang. Mereka pun memasukkan jenazah si Mbah di kantung mayat, menuliskan huruf ‘M’ di atasnya dengan spidol, dan langsung melarikannya ke RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Roger...

Bagi sebagian anggota tim SAR, Mbah Maridjan memang bukan sosok yang asing. Bila mendaki Merapi lewat jalur selatan, mereka selalu sowan terlebih dahulu ke tempat Si Mbah. Di rumah yang kini telah porak poranda itu, dulu mereka sering bercengkerama.

Berkat interaksinya dengan para pemuda pecinta alam itulah, yang selalu membawa perangkat komunikasi radio handy talkie, si Mbah mengenal istilah ‘roger’. Maka, jangan heran bila di akhir kalimat pembicaraannya, Mbah Maridjan sering mengimbuhi kata "..., roger.”

Kenangan itu kini terkubur tebalnya lapisan debu vulkanik.

Pada 26 Oktober 2010, pukul 17.02 WIB Merapi mulai ‘batuk’ lagi, sejak meletus terakhir 2006. Diperkirakan, pada letusan yang kedelapan pada pukul 18.21 WIB, Merapi mengembuskan wedhus gembel yang tanpa ampun menyapu bersih dukuh Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Awan piroklastik itu setidaknya menyudahi nyawa 30-an orang di Kinahrejo, termasuk editor senior VIVAnews.com Yuniawan Wahyu Nugroho dan relawan PMI Sleman, Tutur Prijanto.

Sebenarnya, Wawan--nama sapaan Yuniawan--dan Tutur, sudah sempat mengungsi dari Kinahrejo, bersama Agus Wiyarto (asisten dan kerabat Mbah Maridjan), anggota keluarga si Mbah, dan beberapa penduduk desa. Akan tetapi, sesampainya di pengungsian Umbulharjo, dengan mengendarai minibus Suzuki APV, Tutur dan Wawan berkeras kembali untuk menjemput Mbah Maridjan yang memilih bertahan di rumahnya. Di tengah hari yang mulai gelap, mereka tanpa ampun disergap bara wedhus gembel.

Tim evakuasi gelombang pertama menemukan jenazah mereka di belakang mobil APV yang diparkir di depan rumah Mbah Maridjan. Saat ditemukan, mesin mobil masih menyala dengan pintu terbuka. Kemungkinan, Wawan dan Tutur sedang menunggu Mbah Maridjan yang sedang salat. (Kisah Wawan selengkapnya bisa dibaca di sini)

Mbah Maridjan dikenal tak pernah meninggalkan salat lima waktu. Menurut Agus Wiyarto, si Mbah selalu bergegas meninggalkan segala aktivitasnya saat terdengar azan untuk menunaikan salat. Jika ada tamu, si Mbah selalu mengajak salat bersama.

Kebiasaan itu masih begitu lekat dalam ingatan Jangkung Suseno Aji, kamerawan Rumah Produksi Indigo. Usai mewawancarai si Mbah pada 2006, Seno dan reporternya bersiap untuk pulang. Namun, karena sudah malam, si Mbah menyarankan mereka untuk bermalam.

“Jangan turun dulu, salat dulu. Besok pagi saja pulangnya, sekarang sudah gelap,” kata Mbah Maridjan dalam bahasa Jawa.

Sepanjang malam, Si Mbah bercerita banyak hal sambil menyelipkan nasihat-nasihatnya. Meski apa yang diucapkannya sepintas terdengar sepele karena diutarakan dengan cara yang lugu, perkataan si Mbah buat Seno punya arti mendalam.

Saat Merapi kembali aktif pada pertengahan April-Mei 2006, banyak wartawan datang meliput. Mbah Maridjan berkali-kali mengatakan, “Kenapa datang ke sini? Merapi sih sudah biasa batuk-batuk. Kenapa tidak justru ke Selatan, karena akan terjadi sesuatu.”

Dua pekan setelah itu--entah kebetulan entah tidak--ucapan Mbah Maridjan terbukti. Pada 27 Mei 2006, Yogyakarta diguncang gempa dan menelan lebih dari 6.200 korban jiwa.

Tiga minggu setelahnya, pada 8 Juni, gunung berapi itu menyemburkan debu panas, melewati kawasan Kaliadem. Namun, ketika itu wedhus gembel tak menyiram Kinahrejo sehingga Mbah Maridjan dan warga pengikutnya yang memilih bertahan, selamat.

Gaji Rp8.000

Bagi warga sekitar Merapi, Mbah Maridjan adalah tokoh panutan. Apalagi, kakek yang lahir 83 tahun lalu itu adalah putra juru kunci Merapi sebelumnya, Mbah Hargo. Ia mulai dilibatkan sebagai asisten juru kunci oleh ayahnya sejak 1965, sebelum diangkat menjadi abdi dalem keraton pada 1974.

Ketika ayahnya meninggal, pria bernama asli Mas Penewu Surakso Hargo itu akhirnya dilantik menjadi juru kunci oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan titel Raden Ngabehi Surakso Hargo.

Sebagai juru kunci, ia diberi amanat untuk menjaga dan mengawasi Merapi. Ia memimpin berbagai ritual di Merapi, termasuk upacara tahunan Labuhan, di mana warga Merapi melemparkan sesaji ke kawah.

Menurut keterangan Agus, untuk jabatannya itu si Mbah hanya digaji Rp8.000 sebulan.

Ketika si Mbah menjadi bintang iklan Kuku Bima Energi, banyak yang mempertanyakan kenapa tiba-tiba sang penjaga Merapi jadi komersil. Tentang ini, Irwan Hidayat, CEO Sido Muncul, bercerita.

Pertama kali bertemu Mbah Maridjan, ia diantar almarhum Sumadi Wonohito, pemilik Harian Kedaulatan Rakyat. Di awal bertamu, Irwan diperkenalkan sebagai seorang pengusaha kaya dari Jakarta. Mendengar itu, reaksi si Mbah datar-datar saja. Menoleh pun tidak. Sekadar menjaga kesopanan, ia hanya berkata, “Inggih, inggih... (iya, iya...)."

Baru setelah Irwan memperkenalkan diri sebagai adik ipar Anton Sujarwo, si Mbah menoleh dan bersikap ramah. “Saya tidak tahu kalau Bapak adik ipar Pak Anton,” Irwan mengenang.

Ditawari jadi maskot Kuku Bima, si Mbah semula menolak. Ia baru bersedia setelah Irwan membujuknya sembari membawa-bawa nama Anton Sujarwo. “Pak Anton itu orang baik. Karena Beliau, warga di sini bisa mendapat air, memelihara ternak, dan sebagainya,” Irwan menirukan Mbah Maridjan.

Mbalelo

Dikisahkan Agus, si Mbah adalah orang yang bersahaja. Ia berprinsip manusia baru punya nilai dan dianggap berkarya bila mampu mengemban amanah dan tanggung jawab. Begitu pula ia memaknai posisinya sebagai juru kunci.

Karena itulah dia kerap berseberangan pandangan soal bahaya Merapi. Tiap kali Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian merilis data peningkatan aktivitas Merapi, Mbah Maridjan tak mau mengungsi. Ia merasa sudah menjadi tugasnya untuk menjaga Merapi sampai akhir hayat.

Anton Sujarwo, tokoh yang mengenal baik Mbah Hargo, mengatakan sifat-sifat Mbah Maridjan itu menurun dari ayahnya. “Mbah Hargo menurunkan sifat-sifat keteguhan hati, dedikasi, dan pengabdian,” katanya.

Anton mengenal Mbah Hargo sejak 1970, saat yayasannya, Dian Desa, memulai proyek sosial pemasangan jaringan pipa air bersih ke tujuh dukuh di sekitar lereng Merapi. Menurutnya, pengabdian itu diwujudkan si Mbah dalam bentuk kerelaan hidup sederhana di tempat berbahaya seperti Merapi.

Karena keteguhan hatinya itu, tak jarang Mbah Maridjan disebut sebagai orang yang keras kepala. Tak kurang, oleh Sri Sultan HB X, si Mbah disebut abdi dalem yang mbalelo (membangkang).

Pada 15 Mei 2006, Merapi meletus. Presiden SBY meninjau dan bermalam di lokasi. Seluruh kepala dukuh di sekitar Merapi menghadap. Cuma satu yang absen. Dia adalah Mbah Maridjan.

Ketika Sri Sultan HB X secara langsung membujuk Mbah Maridjan untuk turun mengungsi, ia tak menggubrisnya.

"Wartawan, tentara, polisi punya tugas. Saya juga punya tugas untuk tetap di sini," kata dia.

Si Mbah rupanya kerap tak cocok dengan pilihan langkah Sri Sultan HB X. Menurut Agus, ia misalnya prihatin ketika Raja Jawa itu mencalonkan diri menjadi Presiden.

“Kalau Sri Sultan menjadi presiden, nanti Beliau didemo orang. Lebih baik Beliau menjadi Raja Jawa saja, tidak akan ada yang mendemo," Agus menirukan si Mbah. "Mbok yo ojo nggolek jenang, ning jeneng. Yen nggolek jenang, mengko jenenge keri. Nanging yen nggolek jeneng, jenange katut.” (Semestinya jangan mencari jenang [dodol], tapi mencari jeneng [nama baik, kehormatan]. Kalau mencari jenang, nanti jeneng-nya hilang. Tapi kalau mencari jeneng, jenang sudah pasti termasuk di dalamnya].

Sikap keras kepala itu juga yang ditunjukkan dia sampai akhir hidupnya. Lima hari sebelum Merapi meletus, kata Agus, si Mbah masih hakulyakin aliran lava Merapi akan mengarah ke Kali Opak dan berhenti di Gunung Anyar, tanpa melukai penduduk.

Mendengar peringatan pemerintah, Mbah Maridjan cuma berkali-kali berujar, “Ning arep mati ojo keakehan polah. Nrimalah (kalau akan meninggal, jangan kebanyakan tingkah. Berpasrah diri sajalah)."

Kala kepundan Merapi masih memuntahkan material panas ke angkasa, nisan Mbah Maridjan ditancapkan di tanah pemakaman keluarga di Dusun Srunen, Desa Glagahharjo, Cangkringan. Jasad sang penjaga Merapi kini menyatu dengan bumi yang selama ini dijaganya.

Selamat jalan, Mbah. Roger...


http://sorot.vivanews.com/news/read/185786-merapi--mbah-maridjan-dan-wawan

Hii, Masih Ada Orang Amerika Percaya Hantu


Seorang bocah memakai kostum seram dalam perayaan Halloween (AP Photo/Itsuo Inouye)

VIVAnews - Di negara yang, katanya, menonjolkan rasionalitas dan logika seperti di Amerika Serikat (AS), ternyata tidak sedikit yang percaya dengan hantu. Menurut mereka, hantu itu tidak saja berwujud mirip manusia, namun juga ada yang seperti hewan.

Demikian ungkap suatu lembaga survei di AS, Zogby Interactive, dalam menyambut tradisi Halloween - yaitu perayaan unik di negara-negara Barat yang identik dengan hal-hal menyeramkan, yaitu memakain baju penyihir atau berdandan ala setan. Tradisi tahunan itu berlangsung setiap 31 Oktober pada malam hari.

Seperti dimuat di laman Zogby International, sebanyak 37 persen responden percaya adanya hantu berbentuk manusia atau hewan. Bahkan 23 persen responden mengaku pernah dikunjungi kerabat atau teman yang telah meninggal.

Sebanyak 20 persen responden mengaku pernah melihat atau mendengar suara hantu, walau tak dijelaskan seperti apa bentuknya. Selain itu, 22 persen orang yang disurvei menyatakan kendati belum melihat langsung, namun punya teman atau kerabat yang mengaku pernah kontak dengan mahluk halus.

Jajak pendapat lewat internet itu melibatkan 2.100 responden dewasa, dengan marjin kesalahan kurang lebih 2,2 persen.

Saat ditanya apa kegiatan yang rutin dilakukan selama Halloween, 87 persen responden yang punya anak mengaku lebih suka mendandani buah hati mereka dengan kostum seram dan 71 persen mengajak anak-anak main trick-or-treat, yaitu tradisi menyambangi rumah-rumah tetangga untuk minta permen atau cokelat sambil berkostum seram.

Mayoritas respoden, yaitu 35 persen, memilih kostum sejumlah karakter pembunuh sadis di film, seperti Freddy, Jason, dan Michael Myers, sebagai yang paling menyeramkan untuk dipakai selama Halloween, sedangkan 22 persen memilih dandanan mirip mayat hidup atau zombie. (sj)


http://dunia.vivanews.com/news/read/185880-hii--masih-ada-orang-amerika-percaya-hantu

Dede Yusuf Sindir Produsen Makanan Kemasan


Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf (Humas Pemprov Jabar/ Alif Nur Anhar)

VIVAnews - Penumpukan sampah plastik yang makin banyak, salah satunya disebabkan oleh produsen makanan atau minuman kemasan.

Selain itu distributor, retailer dan importir juga menjadi faktor penyumbang terbesar sampah plastik.

"Problematika sampah adalah dari hulu ke hilir, yang disebut sebagai hulu, ya produsen yang berpotensi menghasilkan sampah," kata Dede Yusuf saat ditemui VIVAnews di acara 'Red Goes Green' di Taman Pramuka, Bandung, Minggu, 31 Oktober 2010.

Wakil gubernur Jawa Barat ini memberi contoh, perusahaan mie instan menyumbang 11 miliar plastik per tahunnya. Karenanya, perlu diadakan Peraturan Gubernur mengenai hal tersebut.

"Kalau kami sudah lebih cepat, sudah ada Peraturan Daerah mengenai pengelolaan sampah," ujarnya.

Dede menambahkan, selain memiliki Perda, perlu ada kesepakatan bersama dengan penghasil limbah agar sampah plastik bisa ditanggulangi.

Menurutnya, peraturan yang ditetapkan di Indonesia sampai saat ini masih bersifat imbauan. Padahal jika melirik negara tetangga, Singapura saat ini sudah memberlakukan denda jika membuang sampah sembarangan.

"Tentu mungkin di kemudian hari akan keluar sanksi. Karenanya Pemerintah Jawa Barat sangat senang ada kampanye ini, semoga ini bisa merangsang partisipasi masyarakat," kata pria yang terbiasa membawa kantong sendiri jika berbelanja ini.

Dalam kampanye Red Goes Green, masyarakat diajak untuk lebih peduli terhadap lingkungan, salah satunya dengan membuang sampah pada tempatnya dan bijak dalam menggunakan kantong plastik alias diet kantong plastik.

http://showbiz.vivanews.com/news/read/186003-dede-yusuf-sindir-produsen-makanan-kemasan

Pembantaian di Honduras, 14 Orang Tewas


Sejumlah orang tewas pasca penembakan di San Pedro Sula, Honduras (xinhua.net)

VIVAnews - Pembantaian baru saja terjadi di San Pedro Sula, salah satu kota di bagian utara Honduras. Sedikitnya 14 orang tewas ditembak oleh sejumlah orang bersenjata saat pertandingan sepak bola berlangsung.

"Para penyerang rata-rata menggunakan senjata laras panjang. Mereka mengemudikan kendaraan ke arah lapangan dan langsung menghujani korban dengan peluru," kata pihak berwenang setempat, Minggu 31 Oktober 2010.

"Sepuluh orang tewas di tempat, empat lainnya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit," kata wakil menteri keamanan Armando Calidonio.

Dia juga mengatakan, ada beberapa orang lain yang cedera saat terjadi penembakan karena serpihan peluru dan saat ini dilaporkan dalam kondisi kritis. Sampai saat ini, jumlah korban belum bisa dipastikan. "Motif penembakan ini masih belum jelas. Semua sedang diproses," kata Calidonio.

Namun, belakangan ini diketahui Honduras tengah dihantui kejahatan terorganisir dan geng kekerasan.

Bulan lalu saja, terjadi penembakan serupa oleh sekelompok pria bersenjata. Ketika itu, kelompok tersebut menewaskan setidaknya 15 orang di sebuah pabrik sepatu kecil yang juga berlokasi di San Pedro Sula. (Xinhua News)


http://dunia.vivanews.com/news/read/185960-pembantaian-di-honduras--14-orang-tewas

Anak Muda 14 Tahun Ini Tunggangi Paus


Sam Matheson, si penunggang paus dari Australia (www.news.com.au/ Trevor Paddenburg)

VIVAnews - Seorang anak muda berusia 14 tahun membuat berita setelah menunggangi seekor ikan Paus yang memiliki panjang 14 meter dan lebar 4 meter di Australia Barat pada bulan September 2010 lalu. Pelajar sekolah menengah atas bernama Sam Matheson ini mengaku melakukan hal itu hanya karena penasaran.

The Sunday Times, Australia, yang mewawancarai anak muda ini menyatakan, ide menunggangi paus itu muncul seketika saat dia melihat seekor mamalia terbesar di lautan itu berenang dekat sebuah tebing karang.

"Saya sedang berada di pantai bersama teman yang bernama Shayden. Paus itu berada di sana, hanya sekitar 10 atau 15 meter dari karang. Jarang sekali ada paus sedekat itu. Saya lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk melihat lebih dekat," kata Sam seperti dilansir News.com.au, Minggu 31 Oktober 2010.

"Saya berenang mendekatinya dan memegangnya, lalu menaikinya sekitar 20 sampai 30 detik," kata Sam. Paus itu lalu membawa Sam berenang sejauh 30 meter.

Paus itu awalnya tak menyadari ada Sam di punggungnya. Namun akhirnya dia menggerakkan ekornya dan mendorong Sam sedikit. Sam lalu berenang kembali ke karang.

"Saya tak mengira telah melakukan perbuatan yang salah, sampai ada berita dan kisah itu di internet. Juga ada di CNN, di semua tempat. Jika saya tahu itu dilarang, saya tak akan melakukannya," kata Sam.

Ibunya, Tammy Smit-Sell, juga mengakui anaknya bukan tipe anak bandel. Sam menurutnya hanya anak yang berjiwa petualang.

"Dia tumbuh besar di sekitar lautan, dia mencintai lautan. Dia suka surfing, memancing dan menyelam. Sam tak akan melecehkan ikan, apalagi seekor paus," kata Tammy.

Namun yang jelas, ketika berita sudah merebak, Departemen Lingkungan setempat telah menginterogasi Sam dan memberinya peringatan. Sam terhindar dari denda maksimum 10.000 dolar Australia karena dugaan menyiksa binatang. Dan Sam menyesali perbuatannya. Dia mengatakan, tak akan melakukan tindakan semacam itu lagi.


http://dunia.vivanews.com/news/read/185949-anak-muda-14-tahun-ini-tunggangi-paus

GIGI, Antara Konser dan Rasa Kangen


Grup Band GIGI (VIVAnews/Beno Junianto)

VIVAnews - Rangkaian perjalanan tur 58 band pada Deteksi Soundburst diawali di Kota Kembang, Bandung. Tur yang digelar di lapangan Gasibu itu menyedot ribuan warga Bandung untuk menyaksikan performa dari GIGI, Andra and The Backbone, The Sigit, DeadSquad, Jane Aprilia, Koil, dan Solitaire Addict.

"Ini bentuk rasa kangen saya menghibur warga Bandung, kalau konser ini seperti pulang kampung. Saya bangga sekali," tutur vokalis GIGI, Armand Maulana saat ditemui di Bandung, Minggu 31 Oktober 2010.

Membawakan sejumlah lagu yang hit, GIGI tampil menghibur para penonton. Beberapa lagu dibawakan antara lain Jomblo, Ya ya ya, Nakal, Amnesia, 11 Januari dan Perdamaian.

Tidak mau kalah Andra and Backbone yang diberi kesempatan menutup acara ini menampilkan beberapa lagu andalannya yakni Jalanku Bukan Jalanmu, Main Hati, Hitamku dan Sempurna.

"Luar biasa antusiasnya sore ini," tutur Armand.

Konser musik ini terdiri atas tur musik dan sebuah festival puncak. Rangkaian tur musik akan diadakan di delapan kota di Indonesia, yaitu Bandung (31 Oktober), Jakarta (6 November), Balikpapan (7 November), Palembang (14 November), Medan (28 November), Denpasar (28 November), dan Yogyakarta (15 November).

http://showbiz.vivanews.com/news/read/185988-gigi--antara-konser-dan-rasa-kangen

Korban Tewas Tsunami Mentawai 450 Orang


Suatu dusun di Mentawai rata dengan tanah setelah diterjang tsunami (ANTARA/Kris Hadiyanto-Setwapres)

VIVAnews - Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat melaporkan korban tewas akibat tsunami di Kepulauan Mentawai sudah mencapai 450 orang hingga Minggu, 31 Oktober 2010 pukul 18.00 WIB.

Sebelumnya korban tewas pada pagi tadi pukul 10.00 WIB sebanyak 449 orang.

Untuk korban hilang belum ada penambahan. Hingga kini hilang masih 96 orang.

Sementara, korban luka berat akibat kejadian gempa dan tsunami pada Senin 25 Oktober 2010 lalu ini adalah 271 orang dan luka ringan 142 orang.

Sementara itu, untuk korban yang mengungsi masih tetap 14.983 jiwa.

Untuk data kerugian materiil pada hari ini tercatat 516 unit rumah rusak berat dan 204 rumah rusak ringan dan 6 unit sarana pendidikan rusak berat.

Selain itu sekitar 8 unit tempat ibadah, 6 rumah dinas, 7 jembatan, 2 resor, 1 kapal dan jalan sepanjang 8 kilometer mengalami kerusakan.

Gempa bumi berkekuatan 7,2 SR sebelumnya menerjang Kepulauan Mentawai pada pukul.21.42 WIB pada Senin, 25 Oktober 2010.

Lokasi gempa berada pada 3.61 LS – 99.93 BT (78 kilometer barat daya Pagai Selatan Mentawai - Sumbar) dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa itu menimbulkan tsunami yang memporak-porandakan Mentawai.


http://nasional.vivanews.com/news/read/185994-korban-tewas-tsunami-mentawai-450-orang

Realisasi Investasi Kwartal III Rp 56,7 T


Pembangunan proyek properti (Antara)

VIVAnews- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi proyek penanaman modal pada kuartal III tahun 2010 mencapai
Rp 56,7 triliun.

"Terjadi peningkatan sebesar 33,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," kata Wakil Kepala BKPM Yus'an di Jakarta, Minggu, 31 Oktober 2010.

Realisasi itu terdiri dari investasi dalam negeri sebesar Rp 16,6 triliun dan investasi asing senilai Rp 40,1 triliun. Adapun total realisasi investasi hingga September 2010 sebesar Rp 149,6 triliun.

Peningakatan penanaman modal dalam negeri terjadi 29,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu 22,7 persen. Mengenai sebaran proyek, penanaman modal terjadi di luar Jawa meningkat 37,7 persen atau senilai Rp 21,4 triliun sedangkan kuartal III tahun 2009 hanya 12,9 persen atau Rp 5,9 triliun.

"Kami memang menginginkan persebaran modal ke luar pulau Jawa," kata dia. Investasi dalam negeri banyak tersebar di Kalimantan Tengah dan Timur.

Sektor usaha dari investasi dalam negeri tersebut didistribusikan ke sektor tanaman pangan dan perkebunan sebesar Rp 4,5 triliun atau sebanyak 76 proyek.

"Investasi sektor ini banyak di luar Jawa," kata Deputi Bidang Pengandalian Pelaksanaan Penanaman Modal MM Azhar Lubis.

Lalu disusul transportasi, gudang dan telekomunikasi senilai Rp 3,1 triliun atau 13 proyek. Industri makanan juga menjadi sasaran sebesar Rp 2,8 triliun atau 34 proyek.

Dilanjutkan dengan industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi senilai Rp 1,4 triliun atau 20 proyek sedangkan sektor jasa mencapai Rp 1,1 triliun atau 33 proyek.

Penanaman modal asing tersebar di sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran sebesar US$ 0,8 miliar dengan 33 proyek.

Pertambangan senilai US$ 0,7 miliar untuk 88 proyek, transportasi, gudang dan telekomunikasi senilai US$ 0,06 miliar atau 29 proyek.

Industri makanan sebesar US$ 0,4 miliar atau 67 proyek dan tanaman pangan dan perkebunan sebesar US$ 0,3 miliar atau 72 proyek.

"Untuk sektor ini Singapura adalah yang terdepan melalui Wilmar," jelas Lubis.

Adapun lokasi proyek dari penanaman modal asing masih terkonsentrasi
di pulau Jawa. Seperti Banten US$ 1,3 miliar, 79 proyek, DKI Jakarta US$ 0,08 miliar atau 257 proyek, Jawa Barat, US$ 0,7 miliar atau 180 proyek, Jawa Timur sebesar US$ 0,4 miliar atau 39 proyek dan Kalimantan Timur sebesar US$ 0,3 miliar atau 48 proyek.

Sementara itu berdasarkan negara penanaman modal asing terbanyak dari
British Virgin Islands senilai US$ 1,3 miliar atau 86 proyek, Singapura sebesar US$ 0,7 miliar atau 158 proyek, Malaysia US$ 0,4 miliar atau 68 proyek, Jepang US$ 0,2 miliar atau 87 proyek dan Belanda US$ 0,2 miliar atau 37 proyek.


http://bisnis.vivanews.com/news/read/186005-realisasi-investasi-kwartal-iii-rp-56-7-t

Merapi Meletus Lagi, Awan Panas Menyebar


Wedus Gembel saat letusan Gunung Merapi tahun 2006 (www.volcanodiscovery.com)

VIVAnews - Gunung Merapi kembali meletus. Letusan terjadi sejak pukul 11.28 - 15.14 WIB, Minggu, 31 Oktober 2010.

Letusan Merapi kali ini juga mengeluarkan awan panas dan hujan abu.
"Luncuran awan panas menyebar kemana-mana. Terjadi sejak tadi siang," kata Kepala Pusat Vulkonologi & Mitigasi Bencana Geologi Surono saat dihubungi VIVAnews.

Luncuran awan panas ini terjadi beberapa kali menuju lereng dengan kecepatan tinggi. Salah satunya ke arah hulu Kali Gendol yang jaraknya 6.5 kilometer dari puncak Merapi.

Sejak Merapi meletus Selasa, 26 Oktober 2010 lalu, hingga kini sudah beberapa kali terjadi letusan.

Letusan terakhir sebelum meletus lagi hari ini terjadi Sabtu 30 Oktober 2010 dini hari pukul 00.50. Letusan itu teramat dahsyat.

"Tinggi asap 3,5 kilometer, warna hitam. Masyarakat panik karena Merapi tak pernah bikin petasan sebesar itu," kata Surono. Abu akibat letusan Merapi itu menyebar ke seluruh wilayah Yogyakarta.


http://nasional.vivanews.com/news/read/185985-merapi-meletus-lagi--awan-panas-menyebar

Setelah Merapi, Delapan Gunung Waspada


Letusan Gunung Merapi tahun 2010 (AP Photo)

VIVAnews – Petang itu, Selasa 26 Oktober 2010 pukul 17.02 Waktu Indonesia Barat, Merapi muntab. Gunung itu mulai memuntahkan awan panas mematikan, ‘wedus gembel’, lalu sesaat kemudian, kolom asap setinggi 1,5 kilometer melangit dari kawah.

Dalam kondisi gelap gulita karena listrik mati, warga yang panik berusaha menyelamatkan diri. Teriakan dan perintah mengungsi beradu dengan suara sirine yang berpekik meraung.

Tak semua warga selamat, letusan Merapi merenggut 35 jiwa, termasuk sang kuncen, Mbah Maridjan, juga sahabat kami, Redaktur VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho.

Wedus gembel juga menerjang pohon, bangunan dan hewan ternak. Kampung Mbah Maridjan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, porak poranda dikubur abu panas. Dan abu tebal itu membuat segalanya nampak putih kecoklatan. Nyaris semua bangunan hancur, kecuali masjid kampung yang masih berdiri tegak meski tak lagi utuh.

Letusan sudah usai, namun Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, mengingatkan agar semua pihak terutama masyarakat sekitar gunung Merapi Yogyakarta senantiasa siaga.

Meski terlihat tenang, sejatinya ancaman Merapi masih mengintai. "Diamnya ini ada apa, apakah mengumpulkan tenaga lagi, belum kita ketahui. Kita tidak boleh lengah, bencana justru terjadi karena kita lengah, kata Surono kepada VIVAnews, Rabu 27 Oktober 2010.

Soal Merapi, para pengamat gunung berapi memang berpacu dengan waktu. Proses menuju erupsi terhitung sangat cepat. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat, perubahan status dari Normal menjadi Waspada terjadi pada tanggal 20 September 2010.

Sebulan kemudian, pada 21 Oktober 2010, statusnya berubah menjadi Siaga, dan kemudian menjadi Awas – level tertinggi—empat hari kemudian pada 25 Oktober 2010, hanya sehari sebelum Merapi ‘batuk’.

Waspada delapan gunung

Merapi adalah satu dari gunung berapi di negeri ini yang paling sering "batuk". Para ahli gunung berapi mengelompokannya dalam gunung berapi yang sering meletup itu dalam kategori A. Sedang gunung berapi yang tidak aktif dikelompokan dalam gunung kategori B.

Sejumlah gunung berapi tipe A itulah yang selama ini diawasi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Dengan meletusnya Gunung Sinabung yang masuk kategori B, Minggu 29 Agustus lalu, maka pemerintah juga sudah mewaspadai gunung kategori B.

Dan kini delapan gunung kategori A, sudah masuk dalam tahap waspada. Gunung-gunung itu adalah Sinabung, Gunung Talang, Gunung Anak Krakatau, Gunung Papandayan, Gunung Slamet, Gunung Dieng, Gunung Semeru, dan Gunung Bromo.

Ada satu gunung lagi yang lebih tinggi levelnya yakni Gunung Karangetang di Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Gunung ini berstatus Siaga. Gunung ini pernah meletus pada Jumat 6 Agustus 2010. Merapi, Karangetang dan 8 delapan gunung itu, kini dipantau ketat pemerintah.

Selain dipantau ketat, warga di sekitar juga bersiaga, sebab aktivitas gunung-gunung itu sulit diprediksi. ” Status waspada kita berikan karena kawah gunung tidak dalam kondisi aman untuk didekati,” kata Kepala Sub Bidang Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi Kementerian ESDM, Agus Budianto, kepada VIVAnews.com, Jumat 29 Oktober 2010.

Gunung Anak Krakatau, semenjak 2007 kerap mengeluarkan lava pijar, walau volumenya masih rendah. Letusan kecil juga sering terjadi. Untuk sementara, jika letusan masih kecil, tidak berbahaya. Sebab, kata Agus, "Pemukiman terdekat jaraknya sekitar 46 kilometer."

Gunung yang belakangan juga sering "batuk" adalah Semeru di Jawa Timur. Semeru kini giat membangun kubah lava, yang terkadang diikuti guguran lava pijar dan hujan abu.

"Ini masih mirip-mirip Merapi sedikit. Bedanya, kalau model Merapi, kita jarang melihat aktivitas letusan terus menerus. Kalau Semeru sering, tetapi tidak berbahaya," katanya.

Agus menambahkan bahwa jika dilihat dari aktivitas tremor, trennya memang meningkat. Tapi masih dalam status waspada. Untuk itulah warga diminta menjauh dari puncak Semeru.

Pemerintah Jawa Timur tak mau kecolongan. Kini mereka bersiaga menghadapi segala kemungkinan terburuk – pasca meletusnya Merapi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Jawa Timur, sudah melakukan sejumlah langkah.

"Kami sudah sosialisasikan kepada masyarakat soal status Waspada sehingga diharapkan tidak ada korban," kata Kepala BPBD Jatim, Siswanto, Kamis 28 Oktober 2010. Sarana dan prasarana disiapkan, misalnya, pusat informasi bencana, lokasi penampungan, puskesmas, angkutan evakluasi, juga masker.

Bumi bergerak

Memang tak ada kaitan antara letusan Gunung Merapi dengan peningkatan aktivitas delapan gunung itu. Namun, menurut Agus Budianto, dinamika bumi bisa membuat gunung-gunung itu saling terkait.

Bumi yang kita huni ini terus bergerak. Dan pergerakan itu, kata Agus, tidak bisa diprediksi, tapi bisa saja membuat meningkatkan aktivitas gunung-gunung itu secara bersamaan. Agus menegaskan bahwa, "Konsekuensi pergerakan lempengan dan gempa tektonik bisa memicu letusan gunung berapi."

Analisa yang sama juga disampaikan Surono. Gempa bumi tektonik bisa merangsang letusan gunung berapi. Batavia, yang kini bernama Jakarta, pernah babak belur dihajar gempa. Dua diantaranya terjadi tahun 1699 dan tahun 1883. Gempa tahun 1699 diikuti letusan Gunung Salak. Gempa tahun 1883 diikuti amukan Krakatau.

"Kalau gempa vulkanik tidak merusak, sebab, maksimal kekuatannya 2 skala Richter," kata Surono, Senin 26 Juli 2010 malam. Misalnya, tambah dia, meletusnya Gunung Talang dipicu gempa Mentawai 2004.

Indonesia adalah negeri kaya sumber daya alam. Jumlah tenaga geothermal atau panas bumi negeri merupakan 40 persen dari yang ada di seluruh dunia. Tapi resikonya juga besar. Berdiri di jalur lingkaran "cincin api" atau ring of fire membuat negeri ini jadi langganan bencana. Dari gempa hingga letusan gunung.

http://fokus.vivanews.com/news/read/185737-merapi-meletus--8-gunung-menanti-

Anas Urbaningrum Bela Marzuki Alie


Andi Mallarangeng, Marzuki Alie dan Anas Urbaningrum (Demokrat) (Antara/ Widodo S Jusuf)

VIVAnews - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Anas Urbaningrum mengatakan apa yang ditafsirkan orang terhadap pernyataan Ketua DPR Marzuki Alie terkait tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, salah.

"Saya kira Marzuki Alie masih mempunyai rasa empati terhadap
bencana alam tsunami di Mentawai Sumatera Barat dan gunung Merapi meletus," ujar Anas kepada wartawan di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu, 30 Oktober 2010.

Anas mengatakan, konteks yang dilontarkan Marzuki Alie maksudnya adalah dibutuhkan relokasi terhadap daerah yang berada di bibir pantai yang rawan bencana tsunami dan relokasi daerah di sekitar Gunung Merapi.

"Kami kira Marzuki Alie tidak ada maksud untuk melukai orang-orang yang kena musibah," paparnya.

Anas mengaku kenal betul karakter dan kepribadian Marzuki Alie. Dia tidak pernah berniat melukai seseorang, terutama korban bencana tsunami dan Merapi.

Sebelumnya, Marzuki Alie sempat melontarkan pernyataan "Mentawai itu kan pulau. Jauh itu. Pulau kesapu dengan tsunami, ombak besar, konsekuensi kita tinggal di pulau lah."

Saat ditanya, konsekuensi apa yang dimaksudnya, Marzuki menjawab, "Ya kalau takut kena ombak, jangan tinggal di tepi pantai," ujar Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat ini.

Kontan saja pernyataan Marzuki ini mengundang kecaman, terutama lewat situs Twitter.

http://politik.vivanews.com/news/read/186001-anas-urbaningrum-bela-marzuki-alie

Fokus Pelesir DPR Miliaran Rupiah di Kala Bencana


Coretan di Gedung DPR (ANTARA/Yudhi Mahatma)

VIVAnews - Wilayah Indonesia dilanda bencana alam silih berganti dalam sebulan terakhir. Mulai dari banjir bandang di Wasior, Papua Barat, kemudian tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Seolah masih ingin menguji lagi, bencana letusan Gunung Merapi pun meluluhlantakkan rumah-rumah di sekitarnya.

Bencana alam ini memakan jumlah korban yang tak sedikit, Wasior 101 orang tewas. Merapi 35 orang meninggal. Sedangkan, di Mentawai hingga Jumat kemarin, lebih dari 400 orang tewas akibat petaka selama 15 menit tersebut.

Ironisnya, di tengah rentetan bencana yang mengharubiru, kabar tak sedap malah datang dari gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Wakil rakyat justru susul menyusul terbang ke luar negeri.

Setidaknya ada lima rombongan DPR yang berangkat ke mancanegara. Salah satunya dari Komisi II yang juga membidangi pemerintahan. Komisi II akan berangkat ke India dan China untuk studi banding tentang kependudukan.

"Rencananya, rombongan ke China dan India berangkat pada 1 (November 2010)," kata Ketua Komisi II Chairuman Harahap.

Komisi II yang terbang ke China dan India terbagi dalam dua rombongan. Mereka akan mempelajari tentang sistem administrasi kependudukan di dua negara padat penduduk itu. Menurut jadwal di Sekretariat Jenderal DPR, keberangkatan ke China pada 1 November, sedangkan ke India pada 9 November 2010 ini.

Selain Komisi II, Komisi V juga terbang ke Italia. Agenda utama mereka dalam rangka penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Rumah Susun. Anggota Komisi V yang terbang ke Italia yakni empat orang dari Fraksi Demokrat: Rustanto Wahid, Usmawarni Peter, Sutarip Tulis Widodo dan Zulkifli Anwar. Tiga orang dari Fraksi Golkar: Riswan Tony, Eko Sarjono Putro, dan Roem Kono. Dua dari Fraksi PDIP: Irfansyah dan Sadar Estuati. Dua orang dari Fraksi PAN: Yasti Soepredjo Mokoagow dan Ahmad Bakri. Serta masing-masing satu orang dari Chairul Anwar (FPKS), Epyardi Asda (F-PPP), Imam Nachrowi (F-KB), dan Gunadi Ibrahim (F-Gerindra).

Selanjutnya, Komisi XI, khususnya Panitia Khusus Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rombongan ini akan terbang ke empat negara, Inggris, Perancis, Jepang, dan Korea. Studi banding ini akan menghabiskan dana sekitar Rp1,7 miliar. Ketua Pansus OJK, Nusron Wahid, mengatakan, dana sebesar itu diperuntukkan bagi 30 anggota Pansus OJK.

"Tim akan dibagi dua kelompok, yakni 15 orang ke Jerman dan 15 orang ke Korsel," kata Nusron. Perjalanan dinas itu akan berlangsung sejak 30 Oktober hingga 6 November 2010. Masing-masing anggota Pansus diperkirakan menghabiskan dana antara Rp50-60 juta.

Rombongan berikutnya: rombongan dari Badan Kehormatan (BK) DPR yang akan belajar tentang kode etik ke Yunani. Tujuan di atas kertas, untuk menyempurnakan tata tertib dan kode etik anggota dewan. Namun, Ketua BK dari F-PDIP Gayus Lumbuun dan Tri Tamtomo menolak untuk ikut. Mereka menilai kunjungan kerja ini tidak perlu dan bisa dilakukan dengan mencari informasi di dunia maya.

Terakhir, rombongan Badan Legislasi (Baleg) DPR yang akan ke Belanda. Di negeri Kincir Angin ini, DPR ingin mempelajari soal badan bantuan hukum bagi rakyat miskin. Keperluannya, untuk pembahasan RUU Badan Hukum.

Biaya semua kunjungan itu, jauh melampaui harga sebuah menara early warning system di wilayah bencana. Di pasar Tiku, Tanjung Mutiara, Agam, Sumatera Barat, berdiri tegak sebuah menara sirene, yang akan secara otomatis menjerit bila ada gempa di lautan yang menimbulkan tsunami.

Sejumlah wilayah di Sumbar memiliki menara seperti ini. Tapi karena harganya mahal, alat penting ini malah tak dibangun di episentrum gempa besar, Kepulauan Mentawai. Warga di kepulauan ini harus puas dengan mengandalkan lonceng gereja yang tak terdengar saat hujan deras, seperti yang terjadi 25 Oktober lalu.

Mereka yang Membatalkan

Kritik pedas dari masyarakat dengan kunjungan wakil rakyat ke luar negeri membuat kuping sejumlah anggota DPR panas. Beberapa diantaranya pun mendengar aspirasi rakyat dan membatalkan perjalanan.

Pertama yang membatalkan rencana ke luar negeri adalah Komisi II DPR akhirnya menunda kunjungan ke China pada 1 November 2010. Sementara, kunjungan yang ke India yang dijadwalkan 8 November 2010 belum ada perubahan.

"Yang ke India belum diputuskan karena berangkatnya tanggal 8 November 2010," kata Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap.

Menurut dia, pembatalan itu untuk menunjukkan empati pada korban bencana. Apalagi, Indonesia sedang mengalami rentetan bencana alam. Mulai dari banjir bandang Wasior sampai yang terakhir, Merapi.

Kemudian, Baleg DPR juga ikut membatalkan kunjungannya ke Belanda yang semula untuk kepentingan pembahasan RUU. Ketua Baleg Ignatius Mulyono menjelaskan rencana ini menjadi tidak pasti karena sampai sekarang belum ada jawaban dari Belanda soal permintaan kunjungan anggota DPR ini. Rencana semula, kunjungan Baleg akan dilakukan 8 November mendatang.

Faktor kedua, kata Ignatius, DPR juga ingin memberi perhatian kritik masyarakat soal kondisi negara yang terus dilanda bencana alam. "Soal lain, kami akan melakukan penghematan," kata dia.

Sekarang, publik masih menunggu, siapa berikutnya?


http://fokus.vivanews.com/news/read/185768-plesir-miliaran-di-kala-bencana


Hasil Survei 97 Persen ABG Sudah Pernah Nonton Bokep

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBhuiVaw8jSow7YoxC5D-wWa5w92g4Qe6c6fLkgCQfKC01-d7uNGuTqVLY5A1BpOJ9sz1zn6V-CLdjcrMt2XZcCEeJ67XtfwADyrbzC4wlOuf-r_yfkun2h_gBjqf6bbSxx3UPYatSuCa3/s400/gang+abg+1.jpg


Agaknya para orang tua, mesti lebih waspada dan mawas diri untuk bisa mengawasi dan membimbing anaknya lebih bijaksana dijaman sekarang yang sangat deras arus informasi dan komunikasi serta perkembangan dunia maya yang pesat. Survei Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, di kota besar, Januari hingga Juni 2008 mencatat sebagian besar atau 97 persen remaja setingkat SMP dan SMA pernah menonton film porno.

Peredaran video porno dan link downloadnya di  internet menjadi ancaman moral bagi generasi muda

Peredaran video porno dan link downloadnya di internet menjadi ancaman moral bagi generasi muda

Bahkan berdasarkan hasil survei tersebut sebanyak 93,7 persen remaja SMP dan SMA pernah ciuman, meraba alat kelamin serta oral seks, kata Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Tengah, Benny Benu, di Palangka Raya, Jum’at. “Yang lebih miris lagi karena dari 62,7 persen remaja tidak perawan dan 21,2 persen remaja mengaku pernah aborsi,” tuturnya.

Padahal prinsip dasarnya, jika merusak anatomi di dalam tubuh seorang wanita berarti akan merusak bangsa, tegas Benny. Selain itu, dari hasil survei kesehatan reproduksi remaja 2002-2003, tercatat remaja mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada usia 14 hingga 19 tahun.
Dijelaskannya, ada tiga faktor yang paling memengaruhi remaja melakukan hubungan seks, yakni mempunyai teman sebaya atau pacar, teman yang setuju dengan hubungan seks bebas pranikah dan teman yang memengaruhi atau mendorong untuk melakukannya. Tugas kita bersama untuk menjaga generasi muda penerus bangsa agar bisa lebih berbudi dan bermoral baik

sumber http://ruanghati.com/2010/10/31/astaga-hasil-survei-97-persen-abg-sudah-pernah-nonton-bokep/

Foto Bulu Ketek Tessa Kaunang Sebelum Dicukur




http://dunia-panas.blogspot.com/2010/10/foto-bulu-ketek-tessa-kaunang-sebelum.html

Foto Mehndi, Seni Tato India Paling Spektakuler di Dunia

Mehndi adalah bentuk dekorasi kulit sementara yang sangat populer di Asia Selatan. dekorasi Mehndi menjadi populer di Barat pada akhir 1990-an, di mana mereka kadang-kadang disebut henna tato. Henna biasanya diterapkan selama acara-acara khusus seperti pernikahan dan festival. Biasanya digambar di telapak tangan dan kaki, di mana warna akan gelap karena kulit mengandung lebih dari keratin yang mengikat sementara untuk lawsone, pada pewarna henna. Henna awalnya digunakan sebagai bentuk dekorasi terutama untuk pengantin.
Tato henna Istilah tidak akurat, karena tato didefinisikan sebagai penyisipan bedah permanen pigmen bawah kulit, yang bertentangan dengan pigmen beristirahat di permukaan seperti halnya dengan mehndi.


























































































http://dunia-panas.blogspot.com/2010/10/foto-mehndi-seni-tato-india-paling.html

Blog Archive